Gua Pawon adalah sebuah tempat yang penting bagi orang Sunda karena di sana pernah ditemukan kerangka manusia purba yang konon adalah nenek moyang orang Sunda (masih diteliti di balai Arkeolog Bandung). Gua ini sebenarnya adalah sebuah situs purbakala yang terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, atau sekitar 25 km arah barat Kota Bandung.
Namun sayangnya popularitas Gua Pawon sendiri sebagai sebuah tempat wisata kalah dengan tempat-tempat wisata lainnya yang berada di sekitar Bandung. Misalanya saja oleh Kawah Putih, Tangkuban Perahu ataupun Situ Cibutur yang berada di dekatnya. Jadi bagi yang tinggal di daerah Bandung atau pun yang sering berdomisili di Jatinagor seperti kami, kami sarankan untuk berkunjung ke Gua Pawon ini.
Keberadaan Gua Pawon bagi warga Kampung Gua Pawon dan Panyusuan Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Negara Indonesia ini barangkali tidaklah terlalu istimewa. Letak gua yang berada di lokasi penambangan berbagai jenis batu itu hanya dianggap sebagai satu lokasi tempat bernaung disela penambangan batu atau tempat bermain anak-anak. Namun, siapa sangka jika di dalam gua ini ternyata menyimpan misteri kehidupan masa lalu. Dalam gua itu ditemukan 20.250 tulang belulang dan 4.050 serpihan batu yang diperkirakan berusia sekira 10 ribu tahun. Temuan ‘besar’ yang cukup menggemparkan masyarakat Jawa Barat ini diharapkan akan menguak sejarah peradaban manusia Sunda. Apalagi selama ini, daerah Bandung dan sekitarnya amat miskin dari temuan-temuan arkeologi khususnya yang menyangkut peradaban manusia sehingga kemudian dijuluki ahistoris.
Lokasi Situs Gua Pawon
Temuan tulang belulang dan serpihan batu itu diyakini mengindikasikan adanya kehidupan manusia purba dikawasan Gua Pawon. Bahkan dikawasan tersebut dipastikan pernah tumbuh kebudayaan manusia pada jaman dulu. Dugaan sementara para pakar, tulang belulang tersebut milik manusia purba yang hidup pada jaman batu dan tinggal di dalam gua. Sedangkan serpihan batu diduga merupakan perkakas milik manusia yang hidup dijaman dulu.
Tulang belulang maupun serpihan batu, yang ditemukan didalam salah satu rongga Goa Pawon yang berlokasi antara Kampung Gua Pawon dan Panyusuan, Desa Gunung Masigit Kabupaten Bandung tersebut diduga berasal dari masa perlapisan budaya. Benda-benda tersebut ditemukan tim arkeologi dari Balai Arkeologi Bandung setelah melakukan penggalian selama sepuluh hari, (10-19 Juli 2003) pada lubang berukuran 2 x 2 meter persegi dengan kedalaman 140 sentimeter.
Fosil Manusia Purba
Kepingan Fosil Kembali Ditemukan di Gua Pawon Menurut Lutfi, sejauh ini penggalian sudah berhasil mengumpulkan beberapa pecahan benda sesuai zamannya. Alat serpih dan batu-batu obsidian biasa ditemukan pada manusia purba yang hidup di zaman Mesolithikum. Sedangkan pecahan gerabah menandakan manusia kuno yang hidup di era Neolitikum. “Itu berkisar 6.000 hingga 9.500 tahun yang lalu,” ujarnya Selain itu, tim penggalian menemukan gigi gajah purba dan tulangnya dalam ukuran kecil. Kemungkinan, kata Lutfi, gajah itu masih kecil. Temuan benda-benda tersebut diperoleh dari kedalaman mulai 10 sentimeter. Dari temuan batuan di lokasi situs, ada pula batu andesit, yang dipastikan bukan berasal dari kawasan batuan karst atau kapur tersebut. Lutfi memperkirakan batuan tersebut diambil dari tempat lain sebagai peralatan hidup. Temuan lainnya adalah gigi ikan hiu yang dijadikan sebagai perhiasan. Lutfi menduga, mobilitas manusia purba di Gunung Pawon saat itu sudah cukup tinggi. Untuk mendapat gigi ikan hiu, misalnya, manusia purba paling tidak harus menuju ke laut terdekat yaitu di daerah Subang. Sedangkan batuan obsidian yang seperti beling kaca, didapat dari berbagai daerah tempat asalnya, mulai Nagrek, Garut, hingga Sukabumi.
Di dalam gua pawon ini ada yang disebut sebagai ruang utama atau kamar pertama. Kamar pertama ini kecil dan digunakan sebagai tempat penyimpanan atau gudang. Dan ada juga yang sering disebut sebagai ruang terakhir atau ruang tujuh. Ruang ini digunakan untuk beristerihat atau tidur. Ruang ini juga sering digunakan sebagai tempat mengawasi keadaan di luar sebelum melakukan aktifitas karena terdapat lubang besar atau bisa disebut sebagai jendela alami
Bentuk gua merupakan cikal bakal adanya konsep rumah modern seperti sekarang ini. Awalnya manusia purba tinggal membuat tenda seperti saung-saung dari daun-daunan. Namun, karena tidak tahan terhadap cuaca seperti angin dan hujan maka manusia purba migrasi ke tempat lain. Mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di gua. Mengapa demikian, karena gua tempatnya tertutup dan bisa melindungi mereka dari angin, air, dan hewan-hewan buas. Lalu manusia purba menetap di gua pawon dan berkehidupan di sana.
Di dalam gua terdapat banyak stalaknit dan stalaktit dan stalakmit yang berarti menunjukan bahwa gua itu terbuat dari tetesan air permukaan yang.mengandung kapur atau batuan gamping dikarnakan tepat dia atas gua pawon terdapat stone garden yang merupakan gunung batuan gamping.
Proses pembentukan gua oleh batuan gamping
Dari seluruh proses kejadian terbentuknya gua, yang paling luas dan intensif adalah gua-guayang terbentuk pada formasi batu gamping yang umumnya kemudian berkembang menjadi suatu bentang alam khas yang dikenal sebagai bentang alam kars (karst, istilah internasional, berasal dari bahasa Jerman yang diperkenalkan oleh Cvijic pada sekitar tahun 1850 dari istilah asli bahasa Slavia krs atau kras setelah ia meneliti suatu daerah gersang di Slovenia/dulu Yugoslavia, timur laut Trieste). Hampir semua goa yang ada dibentuk dari karst (dari bahasa Slavia Krs/Kras yang berarti batu-batuan). Istilah karst dipakai untuk suatu kawasan batu gamping (limestone) yang telah mengalami pelarutan sehingga menimbulkan relief dan pola pengaliran yang khas. Hal ini dicirikan dengan adanya proses geokimia dan kehadiran atmosfer, biosfer, dan hidrosfer sekaligus.
Sejarah geologi karst dimulai pada zaman karbon (sebutan untuk sebuah masa di 354-290 juta tahun lalu) akhir, hingga Perm (290-248 juta tahun lalu) awal yang menimbulkan batuan tertua. Umumnya pada akhir masa Perm awal, terjadi aktivitas tektonik berupa pengangkatan dan pelipatan satuan sabak serta timbulnya sesar mendatar. Pada zaman Trias (248-206 juta tahun lalu) awal, terjadi proses susut laut yang membentuk morfologi batu gamping. Ini akan diikuti dengan intrusi ke permukaan yang menerobos batu gamping, hingga mengakibatkan batu gamping menjadi marmer. Akibat proses gaya-gaya geologi yang berpengaruh, akan terbentuk struktur rekahan yang disebut diaklas, yakni jalur resapan air permukaan dan membentuk morfologi karst. Hal ini akan terus terjadi, entah sampai kapan berakhirnya. Mengapa pembentukan gua sangat intensif di kawasan kars yang batuannya didominasi batu gamping / batu kapur / limestone? Hal ini sangat terkait dengan sifat batu gamping yang unsur utamanya adalah karbonat CaCO3 yang sangat reaktif terhadap larutan asam, khususnya larutan senyawa asam yang mengandung CO2. Walaupun secara kimiawi prosesnya sangat rumit dan kompleks, tetapi proses pelarutan batu gamping secara sederhana mengikuti persamaan reaksi berikut:
CaCO3 + H2O + CO2 Ca+ 2HCO3
Proses dengan panah bolak-balik tersebut menunjukan bahwa air yang mengandung senyawa asam CO2 akan melarutkan karbonat menjadi kalsium dan bikarbonat. Reaksi balik dari kanan ke kiri akan kembali menghasilkan karbonat. Maka selain adanya proses pelarutan yang membawa partikel karbonat sehingga terjadi pelubangan dan pengguaan pada batu gamping, di tempat lain terjadi proses pengendapan karbonat berikutnya. Ini menerangkan proses selain terbentuknya gua itu sendiri, juga terbentuknya hiasan-hiasan gua (stalactite, stalagmite, flowstone, guardam, dll) yang merupakan hasil endapan karbonat dari pelarutan karbonat di tempat lain.
Namun demikian tidak sembarang batu gamping dan tidak sembarang tempat bisa membentuk gua. Gua batu gamping (yang berlorong panjang dan berliku-liku) umumnya berkembang akibat adanya proses pelarutan dan diperbesar oleh proses erosi / abrasi yang mengikuti suatu jaringan retakan pada batu gamping. Sebelumnya, faktor iklim, tanah penutup dan keberadaan air tanah menjadi kontrol utama proses pengguaan ini. Selain itu batu gampingnya sendiri umumnya harus padat, murni karbonat dengan sedikit campuran partikel lain, berlapis baik dan dalam kedudukan mendatar / tidak miring terjal. Kondisi ideal di atas merupakan kondisi ideal bagi berkembangnya perguaan dan biasanya berkembang menjadi kawasan kars tyang luas. Contoh daerah yang mempunyai kondisi ideal tersebut antara lain di Pangandaran, Jawa Barat ; Karangbolong, Gombong Selatan di Jawa Tengah ; Gunung Sewu yang sangat luas mulai dari Yogyakarta, selatan Wonogiri Jawa Tengah hingga Pacitan di Jawa Timur, yang kemudian bahkan menerus ke Tulungagung dan Blitar. Di Sumatra kawasan kars cukup luas berada di Payakumbuh hingga Sawahlunto, di Kalimantan terdapat di Sangkurilang, Kalimantan Timur bagian utara, Sulawesi Selatan di Maros dan Toraja, serta di berbagai tempat di Papua.
Diatas gua pawon terdapat gunung batuan gamping yang disebut kars Karst adalah sebuah bentukan di permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping. Daerah karst terbentuk oleh pelarutan batuan terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat lain misalnya dolomit, dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti halnya batupasir dan kuarsa, dan di basalt dan granit dimana ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable). Daerah ini disebut karst asli. Daerah karst dapat juga terbentuk oleh proses cuaca, kegiatan hidrolik, pergerakan tektonik, air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bentuk lahan yang cocok adalah pseudokarst (karst palsu).
Semoga Bermanfaat





0 komentar:
Pasang emoticon dibawah ini dengan mencantumkan kode di samping kanan gambar.
Posting Komentar